Nama : mohamad Firman Hadi
NIM : 1112051100038
Ibnu Sina
Ibnu
Sina (370/980-428/1037), adalah satu-satunya filosof besar Islam yang telah
berhasil membangun sistem filsafat yang lengkap dan terperinci.Ia menunjukan
jiwa yang jenius dalam menemukan metode-metode dan alasan-alasan yang
diperlukan untuk merumuskan kembali pemikiran rasional murni dan tradisi
intelektual Hellenisme yang ia warisi dan lebih jauh lagi dalam sistem
keagamaan Islam.
Karakteristik
paling dasar pemikiran Ibnu Sina adalah pencapaian definisi dengan metode
pemisahan dan pembedaan konsep-konsep secara tegas dan keras.Hal ini memberikan
kehalusan yang luar biasa terhadap pemikiran-pemikirannya.
Keberhasilan
dan pentingnya prinsip analisis ini di dalam sistem Ibnu Sina sangat menarik
perhatian: ia mengemukakan secara berulang-ulang dan pada setiap kesempatan,
dalam pembuktian-pembuktiannya tentang dualisme tubuh dan akal, doktrin
universal teorinya tentang esensi dan eksistensi dan sebagainya.
DOKTRIN TENTANG WUJUD
Ø Doktrin
Ibnu Sina tentang wujud bersifat emanasionitis. Dari Tuhanlah Kemaujudan Yang
Mesti, mengalir intelegensi pertama, sendirian karena hanya dari yang tunggal,
yang mutlak, sesuatu dapat mewujud. Intelegensi pertama memunculkan dua
kemaujudan, yaitu : (1) intelegensi kedua melalui kebaikan ego tertinggi dari
adanya aktualitas, (2) lingkungan pertama dan tertinggi berdasarkan segi
terendah dari adanya kemungkinan alamiahnya.
Ø Menurut para filosof Muslim, meskipun Tuhan tinggal di
dalam diri-Nya sendiri dan jauh tinggi di atas dunia yang diciptakan, tetapi
terdapat hubungan perantara antara kekekalan dan keniscayaan yang mutlak dari
Tuhan dan dunia yang penuh dengan ketidaktentuan.
Ø Menurut
Ibnu Sina, Tuhan menciptakan sesuatu karena adanya keperluan rasional. Dengan
dasar keperluan rasional ini, Ibnu Sina menjelaskan pra-pengetahuan Tuhan
tentang semua kejadian, dunia secara keseluruhan ada bukan karena kebetulan,
tetapi diberikan oleh Tuhan, ia diperlukan, dan keperluan ini di turunkan dari
Tuhan. Inilah prinsip Ibnu Sina tentang eksistensi secara singkat.
Ø Ibnu
Sina berkeyakinan bahwa hanya dari bentuk dan materi saja anda tidak akan
pernah mendapatkan eksistensi yang nyata, tetapi hanya kualitas-kualitas
esensial kebetulan. Ia telah menganalisis dalam kesempatan yang
panjang, hubungan antara bentuk dan materi dalam al-syifa (“Met”
II, 4 dan “Met” VI,1) dimana ia menyimpulkan bahwa bentuk dan materi itu
bergantung kepada Tuhan (atau akal aktif) dan lebih jauh lagi bahwa eksistensi
yang terusun juga tidak bisa hanya oleh bentuk dan materi saja, tetapi harus
terdapat sesuatu yang lain. Dalam “Met” VIII, 5, ia menjelaskan
kepada kota bahwa segala sesuatu yang Esa, yang esensi-Nya adalah Tunggal dan
Maujud memperoleh sesuatu dari eksistensi yang lain. Dapat dibayangkan, bahwa
eksistensi sesungguhnya bukanlah bentukan benda, tetapi ia lebih merupakan
hubungannya dengan Tuhan.
Ø Menurut Ibnu Sina, esensi mewujud dalam pikiran Tuhan
(dan dalam pikiran-pikiran intelegensi-intelegensi aktif) sebelum hal-hal itu
ada itu maujud di dalam dunia lahiriah, dan mereka juga ada dalam pikiran kita
setelah mereka itu mewujud.Keberadaan adalah suatu yang
ditambah, bukan pada obyek-obyek yang ada, tetapi pada esensi.
Hubungan Jiwa Raga :
Kesadaran
itu ada sejak seseorang dapat mengukuhkan keberadaannya sendiri, hal itu
betapapun ada hanya sebagai cara untuk menempatkan diri, ia adalah kenyataan yang
mungkin, dan bukan suatu kemestian yang logis. Ibnu Sina menegaskan, tentang
keabadian jiwa itu didasarkan atas pandangan bahwa jiwa merupakan suatu
subtansi dan bukan suatu bentuk tubuh, yang kepada bentuk itu jiwa dikaitkan
erat-erat oleh suatu hubungan mistik tertentu keduanya.Namun, pada taraf
transedental, jiwa itu merupakan suatu wujud ruhaniah murni dan tubuh belum ada
bahkan sebagai suatu konsep relasional sekalipun, pada taraf fenomenal tubuh
mesti sudah dapat ditentukan wujudnya sebagaimana sebuah bangunan ditentukan
wujudnya oleh seorang pembangun gedung.Menurutnya, studi tentang fenomenal jiwa
masuk dalam bidang ilmu pengetahuan, sedangkan wujud transedentalnya masuk ilmu
metafisika.Maka, hubungan antara jiwa dan tubuh demikian erat sehingga hal ini
bisa mempengaruhi akal. Sebenarnya, kalau jiwa cukup kuat, jiwa dapat
menyembuhkan dan menyakitkan badan lain tanpa sarana apapun, karena secara
ekslusif, jiwa menyatu dengan tubuh.
TEORI PENGETAHUAN
Ø Ibnu
Sina memberikan seluruh pengetahuan sebagai jenis abstraksi untuk memahami
bentuk suatu yang diketahui. Penekanan utamanya yang sangat mungkin diuraikan
olehnya sendiri, adalah pada tingkat-tingkat daya abstraksi ini dalam pemahaman
yang berbeda-beda. Tetapi kunci utama doktrin Ibnu Sina tentang persepsi ialah
pembedaan antara persepsi internal dan eksternal. Persepsi internal ialah kerja
panca indera eksternal.
Ø Indera
internal yang pertama adalah sensus communis yang merupakan tempat semua
indera. Indera ini menjadikan data indera sebagai persepsi persepsi
Ø Indera
internal kedua adalah indera imajinatif, sepanjang indera ini melestarikan
imaji perceptual.
Ø Indera
ketiga adala juga imaninasi sepanjang indera ini bertindak atas dasar
imaji-imaji ini, dengan penggabungan dan pemisahan. Pada diri manusia ndera ini
dikuasai oleh nalar sehingga imajinasi manusia dapat bekerja dengan cermat.
Ø Indera
keempat dan indera internal terpenting dsebut “wahm”
Ø Doktrin
wahm merupakan unsure tang paling asli dalan ajaran psikologi ibnu sina dan
sangat dekat dengan apa yang oleh para psikolog modern digambarkan sebagai
“respon saraf”
Ø Ibnu
sina berpendapat bahwa persepsi dan imajinasi hanya menyatakan kepada kita
tentang kualitas perceptual dari sesuatu, ukuran, warna, bentuk dsb
Ajaran Tentang Kenabian :
Pentingnya
gejala kenabian danwahyu ilahi merupakan sesuatu yang oleh ibnu sina terlah
diusahakan untuk dibangun dalam empat tingkatan : intelektual, imajinatif,
kejaiban dan sosiopolitis.
Dalam
doktrinnya, ibnu sina secara drastis memodifikasi teologi dogmatis muslim
dengan menyatakan bahwa wahyu didalam al quran pada
umumnya, jika tidak keseluruhannya , merupakan kebenaran simbolis, bukan
kebenaran harfiah, tetapi wahyu itu harus tetap sebagai kebenaran harfiah bagi
orang awam (ini tidak berarti bahwa al quran bukan fiman Tuhan sebenarnya,
seperti kita lihat nanti, dalam arti harfiah memang Quran adalah firman Tuhan)
Ibnu
sina membangun seluruh teori tentang pengalaman intuitif total berdasarkan
pernyataan singkat ini, katanya, manusia sangat berbeda – beda
berdasarkan kekuatan intuitif mereka dalam kualitas maupun dalam kuantitasnya.
Tuhan di Dunia :
Pada
bagian pertama telah kita pelajari bahwa tuhan itu unik dalam arti
bahwa dia adalah kemaujudan yang mesti; segala suatu selain dia bergantung
kepada dirinya sendiri dan keberadannya bergantung pada tuhan. Kemaujudan yang
mesti itu jumlahnya harus satu.Nyatanya, walaupun di dalam kemaujuda ini tak
boleh terdapat kelipatan sifat-sifatNya, tetapi tuhan memiliki esensi alin. Tak
ada atribut lain kecuali bahwa Dia itu ada dan mesti ada, ini di nyatakan oleh
ibnu sina dengan mengatakan bahwa esensi tuhan identik dengan keberadannya yang
mesti itu. Karena tuhan tidak beresensi, maka dia mutlak sederhana dan tak
dapat didefinisikan.
Menurut
ibnu sina, tuhan tak dapat mengetahui manusia secara individu melainkan hanya
secara umum tentunya tidak benar, karena kalau tuhan dapat mengetahui gerhana
matahari yang khusus, mengapa Dia tak mengetahui manusia, dengan secara
demikian, secara individu?
Menurut
ibnu sina, kehendak tuhan berrati hanyalah proses yang mesti atas dunia dari
diri-Nya dam kepuasan diri-Nya melalui proses ini. Memang ia mendefinisikan ini
dengan istilah-istilah yang benar-benar negatif, yaitu bahwa Tuhan
tidak berkehendak sehingga dunia berprosesi dari-Nya; ini amat berbeda dengan
atribut-atribut positif dari pilihan dan penentuan pilihan.Demikian aktifitas
kreatif Tuhan, menurut ibnu sina berrarti pemancaran atau prosesi-prosesi
dunia, dan karena pemancaran ini pada akhirnya berlandaskan sifat intelektual
Tuhan, maka pemancaran bersifat mesti dan rasional.
PENGARUHNYA DI
TIMUR DAN BARAT
Ø Besar
sekali pengaruh ibnu sina. Di timur , sesungguhnya system ibnu sina telah
mendominasi tradisi falsafah muslim sampai zaman modern ketika ia disejajarkan
dengan beberapa orang pemikir barat oleh mereka yang terdidik di
universitas-universitas modern.
Ø Karya-karya
ibnu sina diterjemahkan ke dalam bahasa latin di spanyol pada pertengahan abad
ke 6 H/ ke 12 M. pengaruh pemikirannya di barat telah mendalam dan terbentang
luas.
EmoticonEmoticon