Filsafat Islam 12 | Nashir Al-Din Tusi

Nasir Al-Din Tusi




Nama : mohamad Firman Hadi
Kelas : Jurnalistik 4B
NIM: 1112051100038

Nashir Al-Din Tusi
1.       Biografi dan Pendidikannya
Nama lengkapnya adalah Abu Ja’far Muhammad ibn Muhammad ibnu al-Hasan Nasiruddin al-Tus. Sebagai seorang ilmuwan yang mahsyur di zamannya, Ia memiliki banyak nama. Antara lain Muhaqqiq Al-Tusi, Khuwaja Tusi, dan Khuwaja Nasir
Di masa kehidupannya, Nashiruddin Al-Thusi dikenal sebagai Ilmuwan yang serba bisa (multitalented). Selama hidupnya, ia mendedikasikan diri untuk mengembangkan beragam ilmu astronomi, biologi, kimia, matematika, filsafat, kedokteran, hingga ilmu agama Islam.
Tusi memulai karirnya sebagai ahli astronomi pada pemerintahan Nasir Al din ’Abd Al Rahim, Gubernur dari benteng gunung Isma’iliah Quhistan pada masa pemerintahan ’Ala Al Din Muhammad, Syek Agung VII dari Alamut.
Pada tahun 1259 M, Tusi membentuk Observatiorium Maraghah, yakni suatu majlis yang terdiri atas orang-orang pandai dan terpelajar dengan membuat rencana khusus untuk pengajaran ilmu-ilmu filsafat
2.       Karya-Karyanya
  1. Di bidang logika : Asas Al-Iqtibas, At-Tajrid fi Al-Mantiq, Syarh-i Mantiq Al-Isyarat, Ta’dil Al-Mi’yar.
  1. Di bidang Metafisika : Risalah dar Ithbat I Wajib, Itsat-i Jauhar Al-Mufariq, Risalah dar wujud-i Jauhar-i, Mujarrad, Risalah dar Itsbat-i ’Aql-i Fa’al, Risalah Darurat-i Marg, Risalah sudur Kathrat az Wahdat, Risalah ’Ilal wa Ma’lulat Fushul, Tashawwurat, dan Hall-i Musykilat Al-Asyraf.
  2. Di bidang etika : Akhlak-i Nashiri dan Ausaf Al-Asyraf.
  3. Di bidang teologi/dogma : Tajrid Al’Aqa’id, Qawa’id Al-’Aqa’id, dan Risalah-i I’tiqadat.
  4. Di bidang astronomi : Al-Mutawassithah Bain Al-Handasa wal Hai’a, Zubdat al-Hai’a (yang terbaik dari astronomi), Mukhtasar fial-Ilm At-Tanjim wa Ma’rifat At-Taqwin (ringkasan astrologi dan penanggalan), dan  Kitab Al-bari fi Ulum At-Taqwin wa Harakat Al-Afak wa Ahkam An-Nujum (buku terunggul tentang Almanak, gerak bintang-bintang dan astrologi kehakiman).
  5. Di bidang aritmatika, geometri, dan trigonometri :  Al-Mukhtasar bi Jami Al-Hisab bi At-Takht wa At-Turab (Ikhtisar dari seluruh perhitungan dengan tabel dan bumi), Al-Jabar wa Al-Muqabala (Risalah tentang al-Jabar), Qawaid Al-Handasa (kaidah-kaidah geometri) dan Kitab Shakl Al-Qatta (Risalah tentang triteral).
 3.       Pemikirannya
1Filsafat Metafisika
Menurut Tusi, metafisika terdiri atas dua bagian, pertama ilmu Ketuhanan (’Ilmi Ilahi), kedua filsafat pertama (falsafahi ula). Ilmu Ketuhanan meliputi Tuhan, akal, dan jiwa, pengetahuan tentang alam semesta dan hal-hal yang berhubungan dengan alam semesta yang merupakan filsafat pertama.
2. Politik
Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial. Untuk memperkuat sikapnya, Tusi mengacu pada istilah insan yang berarti manusia, yang secara hurufiah berarti orang yang suka berkumpul dan berhubungan. Itu merupakan ciri khas manusia, maka kesempurnaan manusia dapat dicapai dengan menunjukkan sepenuhnya watak ini terhadap sesamanya. Inilah sebabnya Islam menekankan keutmaan shalat berjamaah.
3. Etika
Tujuan dari filsafat etika (akhlak) Nashiruddin Ath-Tusi ini adalah untuk menemukan cara hidup untuk mencapai sebuah kebahagiaan. Agar bisa mencapai kebaikan maka dalam hal ini manusia dituntut untuk sering berbuat baik, menempatkan kebaikan di atas keadilan dan cinta.
4. Kenabian
Tusi menetapkan perlunya kenabian dan kepemimpinan spiritual. Aturan suci dari Tuhan untuk mengatur urusan-urusan manusia tapi Thuan sendiri berada di luar jangkauan indera. Oleh karena itu, Dia menutus para nabi untuk menuntun orang-orang. Ini memerlukan praata kepemimpinan spiritual setelah para nabi itu menerapkan aturan suci tersebut.
5. Logika
Tusi menganggap logika adalah ilmu dan suatu alat ilmu yang bertujuan memahami makna dan sifat dari makna yang dipahami itu, sebagai alat menjadi kunci untuk memahami berbagi ilmu.
6. Psikologi
Tusi mengemukakan asumsi bahwa jiwa merupakan suatu realitas yang bisa terbukiti sendiri dan karena itu tidak memerlukan lagi bukti lain. lagi pula jiwa, tidak bisa dibuktikan. Jiwa merupakan substansi sederhana dan immaterial yang dapat merasa sendiri. Ia mengontrol tubuh melalui otot-otot dan alat-alat perasa tapi ia sendiri tidak dapat dirasa lewat alat-alat tubuh.
7. Baik dan buruk
Menurut Tusi, yang baik datang dari Tuhan sedangkan yang buruk muncul sebagai kebetulan (‘ard) dalam perjalanan yang baik itu. Tuhan sendiri menghendaki kebaikan yang mneyeluruh tapi selubung indera, imajinasi, kesengan dan pikiran menutupi pandangan dan mnetal kita, yang mengakibatkan adanya kesalahpilihan dan menimbulkan keburukan.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »