Nama:
Mohamad firman Hadi
Kelas
: Jurnalistik 4B
NIM:
1112051100038
Filosof Muslim Al-Kindi
1. Masa
hidup Al-Kindi
Nama
lengkap al-Kindi adalah: Abu Yusuf Ya’qub ibn Ishaq ibn Sabbah ibn Imran ibn
Ismail al-Ash’ats bin Qais al-Kindi. Dia menghapal Al-Qur’an, mempelajari tata
bahasa Arab, kesusastraan dan ilmu hitung, yang kesemuanya itu merupakan
kurikulum bagi semua anak Muslim. Al-Kindi (185 H/801 M-260 H/873 M) adalah
filisof Muslim pertama. Sebagai muslim Arab pertama yang mempelajari ilmu pengetahuan
dan filsafat, al-Kindi disebut “Ahli-filsafat Arab”. emasyhuran al-Kindi akan kekikirannya sama dengan
kemasyhurannya akan pengetahuannya. Keburukan al-Kindi ini digambarkan dalam karikatur
al-Jahiz dalam bukunya Kitab al-Bukhala. Betapapun, al-Kindi hidup mewah di
sebuah rumah, yang di dalam kebun rumahnya, ia memelihara banyak binatang langka. Ia hidup menjauhi masyarakat, bahkan dari tetangga tetangganya.
2. Karyanya
Sebagian
besar karya al-Kindi (berjumlah sekitar 270 buah) hilang. Ibn al-Nadim dan yang
mengikutiya, al-Qifti, mengelompokkan tulisan tulisan al-Kindi, yang kebanyakan
berupa risalah-risalah pendek, menjadi tujuh belas kelompok, yaitu: filsafat,
logika, ilmu hitung, globular, musik, astronomi, geometri, sperikal, medis,
astrologi, dialektika, psikologi, politik, meteorologi, dimensi, benda-benda
pertama, spesies tertentu logam dan kimia.
3. Filsafat
Filsafat hendaknya diterima sebagai bagian dari
kebudayaan Islam.Berdasarkan ini, para sejarawan Arab awal menyebutnya “Filosof
Arab”.Filsafat merupakan pengetahuan tentang kebenaran. Filosof muslim,
sebagaimana filosof Yunani, percaya bahwa kebenaran jauh berada di atas
pengalaman ; bahwa kebenaran itu abadi di alam adialami. Batasan filsafat,
dalam risalah al-Kindi tentang Filsafat Awal, berbunyi demikian : “Filsafat
adalah pengetahuan tentang hakikat segala sesuatu dalam batas batas
kemampuan manusia, karena tujuan para filosof dalam berteori ialah
mencapai kebenaran, dan dalam praktek, ia menyesuaikan dengan kebenaran”.
Pada akhir risalahnya, ia menyifati Allah
dengan istilah “kebenaraan”, yang merupakan tujuan filsafat. “Maka Satu Yang
Benar adalah Yang Pertama, Sang Pencipta, Sang Pemberi rizki semua
ciptaan-Nya….” Pandangan ini berasal dari filsafat Aristoteles, tetapi
‘Penggerak Tak Tergerakkan’ Aristoteles diganti dengan sang ‘Pencipta’.
Perbedaan ini menjadi inti sistem filsafat al-Kindi.
4.
Filsafat dan Agama
Al-Kindi mengarahkan filsafat Muslim kearah
kesesuaian antara filsafat dan agama. Filsafat berlandaskan akal pikiran,
sedangkan agam berdasarkan wahyu. Logika merupakan metode filsafat; sedangkan
iman, yang merupakan kepercayaan kepada hakikat hakikat yang disebutkan dalam
Al-Quran sebagaimana diwahyukan Allah kepada Nabi-Nya, merupkan jalan agama.
Keselarasan antara filsafat dan agama didasarkan
antara 3 alasan:
1.
ilmu agama merupakan bagian dari filsafat
2. wahyu yang diturunkan kepada nabi dan
kebenaran filsafat saling bersesuaian
3. menuntut ilmu, secara logika,
diperintahkan dalam agama.
Filsafat merupakan pengetahuan tentang hakikat
segala sesuatu, dan ini mengandung teologi (al-rububiyyah), ilmu tauhid, etika,
dan seluruh ilmu pengetahuan yang bermanfaat.
Al-kindi membedakan secara tajam agama dan filsafat
dalam risalah “jumlah karya aristoteles”:
1. kedudukan teologi lebih tinggi dari
filsafat
2. agama merupakan ilmu ilahiah, sedang
filsafat merupakan ilmu insani
3. jalur agama adalah keimanan sedang
jalur filsafat adalah akal
4. pengetahuan nabi diperoleh langsung
melalui wahyu, sedangkan pengetahuan filosof diperoleh melalui logika dan
pemaparan
Namun, al-kindi telah membuka pintu bagi
penafsiran filosofis terhadap al-quran, sehingga menciptakan persesuaian antara
agama dan filsafat dalam karangannya the wordship of primum mobile:
1. sujud dalam shalat
2. kepatuhan
3. perubahan dari ketidaksempurnaan
menjadi sempurna
4. mengikuti aturan secara ikhlas
Kesimpulannya, al-kindi adalah filosof pertama
dalam islam yang menyelaraskan antara filsafat dan agama, ia memberikan dua
pandangan berbeda
1. mengikuti jalur ahli logika dan
memilsafatkan agama
2. memandang agama sebagai ilmu ilahiah
dan menempatkannya diatas filsafat
5. Tuhan
Suatu
pengetahuan memadai dan meyakinkan tentang Tuhan merupakan tujuan akhir
filsafat.
Al-kindi
menyifati tuhan dengan istilah-istilah baru: tuhan adalah yang benar, ia tinggi
dan dapat disifati hanya dengan sebutan-sebutan negatif (ia bukan materi, tak
berbentuk, tak berjumlah, tak berkualitas, tak berhbungan), ia juga tak dapat
disifati dengan ciri-ciri yang ada (ia tak berjenis, tak berbagi dan tak
berkejadian, ia abadi)
EmoticonEmoticon