Filsafat Islam 1 | Bentuk Pengetahuan, Pengertian dan Sejarah

Filsafat Islam


Pertemuan 1
I.                   BENTUK PENGETAHUAN
A.    Pengetahuan yang didapat bukan dengan usaha aktif manusia ini diperoleh melalui wahyu.
B       Pengetahuan yang didapat dengan usaha aktif manusia, ini didapat oleh panca indra dan akal , pengetahuan ini disebut :
1.                  Pengelolaan indra
2.                  Pengelolaan ilmu
3.                  Pengelolaan filsafat (melampaui pengetahuan indara dan ilmiah)

II.                PENGERTIAN KATA FILSAFAH
A.                Secara etimologis filsafat berasl dari bahsa Arab yaitu falsafah. Kata falsafah ini berasal dari bahasa Yunani yaitu dari kata philosophia. Philos berarti cinta atau suka. Sophia berarti pengetahuan, ilmu, kebijaksanaan. Jadi Philosophia berarti cinta pengetahuan atau cinta pada kebijaksanaan. Dilihat dari segi praktis filsafat berarti alam berpikir atu alam pikiran. Filsafat adalah suatu ilmu yang merupakan hasil akal manusia yang memikirkan dan mencari hakikat kebenaran segala sesuatu. Proses berfikir rasional dalam mencari sesuatu secara sistematis, menyeluruh (universal), dan mendasar (radikal).

B.                 Ruang Lingkup Filsafat Ilmu

Bidang atau ruang lingkup filsafat ilmu terutama diarahkan pada komponen-komponen  penyangga bagi eksistensi ilmu, yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi.

1.      Al  Wujud/ Ontologi
      Ontologi ilmu meliputi apa hakikat ilmu itu, apa hakikat kebenaran dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan ilmiah, yang tidak terlepas dari persepsi filsafat tentang apa dan bagai­mana yang ada itu. Paham monisme yang terpecah menjadi idealisme atau spiritualisme, paham dua­lisme, pluralisme dengan berbagai nuansanya, merupakan paham ontologik yang pada akhimya menentukan pendapat bahkan ke­yakinan kita masing-masing mengenai apa dan bagaimana yang ada sebagaimana manifestasi kebenaran yang kita cari.
a)      Fisik, mencakup semuanya, manusia dan alam semesta.
b)      Metafisik, membahas ketuhanan

2.      Al Ma’rifat/ Epistimologi
      Epistemologi ilmu meliputi sumber, sarana, dan tatacara mengunakan sarana tersebut untuk mencapai pengetahuan (ilmiah). Perbedaan mengenal pilihan landasan ontologik akan dengan sendirinya mengakibatkan perbedaan dalam menentukan sarana yang akan kita pilih. Akal, akal budi pengalaman, atau komunikasi antara akal dan pengalaman, intuisi, merupakan sarana yang dimaksud dalam epistemologik, sehingga dikenal adanya model-model epistemologik seperti rasionalisme, empirisme, kritisisme atau rasionalisme kritis, positifisme, feno­menologi dengan berbagai variasinya. Ditunjukkan pula bagai­mana kelebihan dan kelemahan sesuatu model epistemologik be­serta tolok ukurnya bagi pengetahuan (ilmiah) itu seped teori ko­herensi, korespondesi, pragmatis, dan teori intersubjektif.
a)      Berkaitan dengan sarana apa pengetahuan itu diperoleh, yaitu dengan teori:
(1)    Menurut Realism, pengetahuan ini sesuai dengan kenyataan yang ada
(2)    Menurut Idelaisme, berpandangan bahwa pengetahuan sesuai dengan  kenyataanadalah mustahil
b)      Metode memperoleh pengetahuan:
(1)   Teori pertama Empirisme, pengetahuan yang diperoleh dengan panca indra, setelah diperoleh kemudian disusun menjadi pengentahuan
(2)   Teori kedua Rasionalisme, pengetahuan yang diperoleh perantara akal, meski panca indra yang mengumpulkan data akan tetapi akal yang menyusun menjadi ilmu.

3.      Al Qayyim/ Aksiologi
      Akslologi llmu meliputi nilai-nilal (values) yang bersifat normatif dalam pemberian makna terhadap kebenaran atau ke­nyataan sebagaimana kita jumpai dalam kehidupan kita yang menjelajahi berbagai kawasan, seperti kawasan sosial, kawasansimbolik atau pun fisik material. Lebih dari itu nilai-nilai juga ditunjukkan oleh aksiologi ini sebagai suatu conditio sine qua non yang wajib dipatuhi dalam kegiatan kita, baik dalam melakukan penelitian maupun di dalam menerapkan ilmu. Dalam perkembangannya filsafat ilmu juga mengarahkan pandangannya pada strategi pengembangan ilmu, yang menyangkut etik dan heuristik. Bahkan sampal pada dimensi ke­budayaan untuk menangkap tidak saja kegunaan atau keman­faatan ilmu, tetapi juga arti maknanya bagi kehidupan
a)      Aksiologi  bersangkutan dengan hakikat ilmu
b)      Hakikat atau ukuran baik dan buruk dibahas dengan filsafat atau akhlak
c)      Hakikat atau ukuran benar dan salah dibahas dalam logika atau mantiq
d)     Hakikat atau ukuran indara dan ukuran indar tidak dibahas dalam filsafat estetika/ jamal

III.             SEJARAH FILSAFAT ISLAM
            Alexander yang agung mengalahkan Darius di tahun 331 sebelum islam masuk ke Siberia. Alexander Agung datang dengan tidak menghancurkan peradaban dan kebudayaan Persia, bahkan sebaliknya, ia berusaha menyatukan kebudayaan Yunani dan Persia. Hal ini telah memunculkan pusat-pusat kebudayaan Yunani di wilayah Timur, seperti Alexandria di Mesir, Antiokia di Suriah, Jundisyapur di Mesopotamia, dan Bactra di Persia.

Pada masa Dinasti Umayyah, pengaruh kebudayaan Yunani terhadap Islam belum begitu nampak karena ketika itu perhatian penguasa Umayyah lebih banyak tertuju kepada kebudayaan Arab. Pengaruh kebudayaan Yunani baru nampak pada masa Dinasti Abbasiyah karena orang-orang Persia pada masa itu memiliki peranan penting dalam struktur pemerintahan pusat.

Para Khalifah Abbasiyah pada mulanya hanya tertarik pada ilmu kedokteran Yunani berikut dengan sistem pengobatannya. Tetapi kemudian mereka juga tertarik pada filsafat dan ilmu pengetahuan lainnya. Perhatian pada filsafat meningkat pada zaman Khalifah Al-Makun (198-218 H/813-833 M).

Penerjemahan Naskah,  Kelahiran ilmu filsafat Islam tidak terlepas dari adanya usaha penerjemahan naskah-naskah ilmu filsafat dan berbagai cabang ilmu pengetahuan ke dalam bahasa Arab yang telah dilakukan sejak masa klasik Islam.

Dalam Ensiklopedi Tematis Dunia Islam: Pemikiran dan Peradaban disebutkan bahwa usaha penerjemahan ini tidak hanya dilakukan terhadap naskah-naskah berbahasa Yunani saja, tetapi juga naskah-naskah dari bebagai bahasa, seperti bahasa Siryani, Persia, dan India.

Usaha penerjemahan tersebut berlangsung selama tidak kurang dari satu setengah abad di zaman klasik Islam (abad ke-1 hingga abad ke-7 H). Dan berlangsung secara besar-besaran di Baghdad sejak masa pemerintahan Al-Mansur (137-159 H/754-775 M), serta mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Al-Makmun.

Bahkan di masa Harun Ar-Rasyid, utusan khusus dikirim ke Kerajaan Romawi untuk mencari manuskrip yang kemudian dibawa ke Baghdad untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.

Usaha ini telah menghasilkan tersedianya buku-buku berbahasa Arab dalam jumlah banyak di perpustakaan-perpustakaan, baik yang dibangun para penguasa Muslim maupun yang dibangun para hartawan.

Ketersediaan buku-buku terjemahan tersebut dimanfaatkan oleh kalangan Muslim untuk berkenalan dengan ilmu pengetahuan dan filsafat, seperti yang telah dilakukan oleh orang-orang Yahudi, Kristen, dan Majusi pada masa-masa sebelum munculnya Islam.

Kegiatan penerjemahan dalam perkembangan berikutnya, telah memunculkan tiga kelompok ahli ilmu pengetahuan. Pertama, mereka yang memusatkan perhatian pada cabang-cabang ilmu pengetahuan saja. Kelompok pertama ini disebut para ilmuwan.

Kedua, mereka yang selain mengkaji dan mengembangkan berbagai cabang ilmu pengetahuan, juga memusatkan perhatian pada bidang filsafat. Kelompok kedua dinamakan para filsuf. Ketiga, yakni mereka yang berupaya menguasai berbagai cabang ilmu pengetahuan dan filsafat untuk keperluan berteologi. Kelompok yang terakhir ini disebut para teolog.

Ilmu filsafat dalam Islam pertama kali muncul dan berkembang di wilayah-wilayah Islam belahan timur, terutama di Baghdad. Baru tiga abad kemudian, ilmu filsafat ini berkembang luas di dunia Islam belahan barat yang berpusat di Cordoba (Spanyol).

Keterlambatan tersebut disebabkan oleh kenyataan bahwa buku-buku yang dihasilkan di dunia Islam belahan timur baru masuk secara besar-besaran ke dunia Islam belahan barat sejak paruh kedua abad ke-4 H, dengan dorongan dan bantuan dari pihak penguasa, terutama pada masa pemerintahan Khalifah Hakam II (350-366 H/937-953 M) di Andalusia.

Berkembangnya ilmu filsafat di dunia Islam ini pada akhirnya telah melahirkan sejumlah filsuf terkenal dari kalangan Muslim. Mereka antara lain Al-Kindi, Ar-Razi, Al-Farabi, Ibnu Maskawaih, Ibnu Sina, Ibnu Bajjah, Ibnu Tufail, dan Ibnu Rusyd.

Dengan memanfaatkan materi filsafat dari para filsuf Yunani, seperti Plato, Aristoteles, Pitagoras, Demokritos dan Plotinus, serta berpegang teguh pada ajaran Alquran dan hadits Nabi SAW, para filsuf Muslim membangun satu corak filsafat baru yang kini dikenal sebagai filsafat Islam. Dan karena dihasilkan dalam zaman klasik Islam, maka filsafat mereka sering disebut dengan filsafat klasik Islam.


Share this

Related Posts

First