Filsafat Islam 3 | Hubungan Filsafat Islam Dengan Ilmu Lainnya

Filsafat Islam  3 | Hubungan Filsafat Islam Dengan Ilmu Lainnya

Ada delapan kata dalam Alquran yang menerangkan tentang akal dan pemikiran, yaitu :
1.      ‘Aqala bermakna berpikir (45 ayat +)
2.      Nazhara bermakna melihat atau menalar (30+)
3.      Tadabbara berarti merenungkan (2)
4.      Tafakkara berarti berpikir (16+)
5.      Faqiha bermakna mengerti atau paham (16+)
6.      Tazakkara bermakna mengingat, mempelajari (44+)
7.      Fahima berarti memahami (1)
8.      Ulu al-bab berarti orang berpikiran (beberapa)

Hubungan filsafat islam dengan tasawuf
Tasawuf merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari cara dan jalan bagaimana seorang islam berada sedekat mungkin dengan Allah SWT. Tasawuf berasal dari kata sufi  yakni, sejenis wol kasal yang terbuat dari bulu yang dipakai oleh orang-orang yang hidup sederhana namun berhati suci dan mulia. Hidup sederhana yakni melihat seseorang tidak hanya dengan fisiknya melainkan kemampuannya dan berusaha hidup dengan apa adanya dirinya.

Filsafat Islam dan Ushul Fiqih
Ushul Fiqih : ilmu tentang dasar-dasar hukum dalam Islam.
Penyusun ilmu ini pertama kali adalah Imam Syafi’I dengan bukunya yang berjudul Al-Risalat. Ushul fiqih sendiri lebih dekat dan masuk dalam ruang lingup Filsafat Islam, sebab dalam menetapkan hukum syariat, ushul fiqih memakai pemikiran filosofis bahkan cemderung mengikuti ilmu logika dengan memberi definisi lebih dulu. Dalam ushul fiqih juga dikenal konsep ijtihad (usaha mengeluarkan ketentuan hukum dengan akal pikiran), konsep al-ra’y (akal pikiran), konsep al-qiyas (analogi), konsep Illat (sebab).

Filsafat Islam dan Sains
Setiap filosof adalah ilmuwan, karena filsafat berdiri atas dasar ilmu pasti dan ilmu alam, namun tak semua ilmuwan adalah filosof. Hal itu disebabkan, pada masa peradaban Islam mencapai puncak, antara filsafat, sains, dan agama berbaur menjadi satu, namun setelah abad ke-6 H, terputuslah hubungan filsafat dan sains yang disebabkan perpustakaan Baitul Al-hikam dibakar dan dibuang ke laut hitam oleh penjajah.

 Tokoh- Tokoh Filosof Islam Dan Sains
1.      Al-Kindi, ahli ilmu pasti dan ilmu falak
2.      Ibnu Sina, ahli ilmu kedokteran
3.      Al-Hasan ibnu Haitam, menemukan ilmu pasti
4.      Abu Musa Jabir ibnu Hayyan, bidang kimia
5.      Abu Raihan ibnu Ahmad Al-Baruni, ilmu falak
6.      Muhammad Al-Syarif Al-idrisi, ilmu bumi alam
7.      Abu Zakariyya Yahya Ibnu Awwam, bidang pertanian
8.      Abu Usman Amr ibnu Bahr Al-Jahiz, ilmu hewan

Hubungan filsafat islam dengan filsafat yunani
Logika yunani mempunyai pengaruh yang sangat besar pada alam pemikiran islam ditaman bani abbas. Perlu ditegaskan bahwa pengaruh bukan berarti menjiplak. Betapa banyak para filosof baik islam maupun non islam terpengaruh oleh pemikiran filosof sebelumnya yaitu khalifah al-makmun seorang intelektual yang mendirikan akademi biat al-hikam akademi ini tidak hanya sebagai tempat penerjemah para intelektual islam tidak hanya mampu menguasai intelektual dari tiga kebudayaan yang sudah tinggi saaat itu yaitu yunani, Persia dan india. Dalam era penerjemah ini bermacam-macam buku filsafat dalam pelabagi bidang diterjemahkan kedalam bahasa arab dari bahasa siryani, Persia dan yunani.

Filsafat Islam 2 | Pengertian Filsafat Islam -

Filsafat Islam 2 | Pengertian Filsafat Islam -
Pengertian Filsafat Islam

            Sebagaimana Filsafat pada umumnya, Filsafat Islam  berdasarkan akal. Dikataka Filsafat Islam, disebabkan hasil dari pada pola pikir  atau filsafat yang selalu dikaitkan dengan agama islam, yang mana Islam merupakan agama yang kaya akan benih-benih Filsafat. Filsafat Islam dianggap sebagai suatu peradaban , sebab terbukti atas peninggalan-peninggalan maupun sejarah pada jamannya. (Sunardji Dahri Tiam)
            Adapun pengertian Filsafat Islam secara esensial terbagi menjadi 2, yaitu; (a) dari luar yakni dari filsafat-filsafat sebelumnya dan (b) dari dalam yakni dari agama Islam sendiri. terdapatnya pemikiran Filsafat Islam disebabkan karena motivasi agama yang berpikir sedalam-dalamnya dengan keadaan insaf atau sadar dan bebas untuk memahami kebenaran. Dengan cara sendirinya, kebenaran menurut filsafat selalu disesuaikan dengan kebenaran menurut informasinya.

     Periodesasi Filsafat Islam
a.       Periode Mutakalimin (sekitar 700 – 900 M)
Lahirnya priode ini disebabkan persoalan politik yang kemudian beruba menjadi persoalan dogmatic teologi,soal besar anta kafr dan mukmin. Periode ini berawal dari kelompok mutakzilah dan ahlussunah. Mutakzilah dan ahlussunah dilandasi oleh aliran beberapa aliran diantaranya:
a.       Syiah
Aliran yang percaya bahwa keluarga Muhammad (para imam syiah) adalah sumber pengetahuan terbaik tentang al-qur’an dan islam, guru terbaik tentang islam setelah nabi Muhammad dan pembawa serta penjaga terpercaya dari tradisi sunnah.
b.      Khawarij
Berdasarkan surat al-maidah ayat 44 kaum khawarij beranggapan bahwa Orang yang terlibat dalam tahkim itu telah menjadi orang kafir. Kafir dalam arti telah keluar dari islam. Orang yang keluar dari islam dinyatakan murtad, dan orang murtad halal darahnya dan wajib dibunuh. Dalam paham ini masalah kafir bukan lagi permasalahan politik, tetapi sudah berubah menjadi masalah teologi.
c.       Murjiah
Kaum Murjiah bebalik dari kaum Khawarij. Kaum murjiah mengatakan bahwa orang-orang yang terlibat dalam tahkim itu tetap berada dalam mukmin.
d.      Qadaariyah
Menurut qadariyah manusia mempunyai kemerdekaan dalam kehendak dan perbuatannya
e.       Jabariyah
Jabariyah sebaliknya dari qadariyah. Jabariyah berpandangan bahwa manusia tidak mempunyai kemerdekaan dalam nerkehendak dan perbuatannya. Manusia dalam seluruh tingkah lakunya menurut jabariyah bertindak dengan paksaan dari Tuhan, segala gerak-gerik manusi sudah ditentukan Tuhan.
Mutakzilah artinya memisakan diri. Pemuka aliran Mutakzilah yaitu Washil bin Atha. Dalam mutakzilah lahirlah tiga ajaran yaitu:
-          Al – Manzilah bayn Al – Manzilataini yaitu aliran yang mengatakan bahwa orang mukmin yang dosa besar bukan kafir dan bukan juga mukmin
-          Qadariyah yaitu aliran yang dilihat dari kemaha bijaksanaan dan keadilan Tuhan. Dalam aliran ini Tuhan tidak layak berbuat zalim dan aniaya. Dalam arti manusia harus diberikan kebebasan memilih dalam mewujudkan perbuatannya baik atau buruk dan Tuhan tidak adil bila memasukkan orang ke neraka sementara orang yang masuk neraka itu bukan atas kehendak dan upayanya sendiri.
-          Nafy Al – Sifat yaitu aliran tentang peniadaan Tuhan dalam aliran ini terjadi sifat syirik.
Ahlussunnah  terbagi atas dua golongan yaitu asy’ariyah dan maturidiyah. Asy’ariyah berpandangan bahwa kehendak manusia dari Allah manusia tidak akan berkehendak kalau Allah tidak berkehendakkaum ini berpandangan dengan imam syafi’i. Maturidiyah sejalan dengan asy’ariyah yang mengatakan bahwa Tuhan mempunyai sifat-sifat. Menurut maturidi Tuhan mengetahui bukan dengan dzatnya demikian pula berkuasa dengan sifat-Nya.

B.      Periode Filosof Islam (sekitar 850 – 1200 M)
Periode in diawali oleh priode mutakalimin sebagai gerakan intelektualisme islam. Dinasti Abasiyah pengganti dinasti umayyah lebih progresif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan filsafat. Penerjemahan secara besar-besaran semua buku filsafat kedalam bahasa arabmaka lahirnya para uama yang ahli dalam berbagai bidang dan kekhususan sendiri. Periode in memperkenalkan Al-Kindi, Ar-Razi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Ghazali, Ibnu Bajah, Ibnu Tufail dan Ibnu Ruysdi.
c.       Periode pasca Ibnu Rusyd (1200 – 1950 M)
Periode in memperdebatkan keabsahan filsafat islamdisatu pihak menyatakan bahwa filsafat islam sudah usai setelah wafatnya Ibnu Rusyd dilain pihak ada yang beranggapan bahwa terdapat sejumlah tokoh yang pantas disebut tokoh filsafat. Corak pemikiran pada periode ini adalah jalan tengah, penggabungan dua kebijakan yang eksperensial dan diskursif. Mereka adalah Suhrawardi, Tusi, Mulla Sadra dan Iqbal.


Filsafat Islam 1 | Bentuk Pengetahuan, Pengertian dan Sejarah

Filsafat Islam 1 | Bentuk Pengetahuan, Pengertian dan Sejarah
Filsafat Islam


Pertemuan 1
I.                   BENTUK PENGETAHUAN
A.    Pengetahuan yang didapat bukan dengan usaha aktif manusia ini diperoleh melalui wahyu.
B       Pengetahuan yang didapat dengan usaha aktif manusia, ini didapat oleh panca indra dan akal , pengetahuan ini disebut :
1.                  Pengelolaan indra
2.                  Pengelolaan ilmu
3.                  Pengelolaan filsafat (melampaui pengetahuan indara dan ilmiah)

II.                PENGERTIAN KATA FILSAFAH
A.                Secara etimologis filsafat berasl dari bahsa Arab yaitu falsafah. Kata falsafah ini berasal dari bahasa Yunani yaitu dari kata philosophia. Philos berarti cinta atau suka. Sophia berarti pengetahuan, ilmu, kebijaksanaan. Jadi Philosophia berarti cinta pengetahuan atau cinta pada kebijaksanaan. Dilihat dari segi praktis filsafat berarti alam berpikir atu alam pikiran. Filsafat adalah suatu ilmu yang merupakan hasil akal manusia yang memikirkan dan mencari hakikat kebenaran segala sesuatu. Proses berfikir rasional dalam mencari sesuatu secara sistematis, menyeluruh (universal), dan mendasar (radikal).

B.                 Ruang Lingkup Filsafat Ilmu

Bidang atau ruang lingkup filsafat ilmu terutama diarahkan pada komponen-komponen  penyangga bagi eksistensi ilmu, yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi.

1.      Al  Wujud/ Ontologi
      Ontologi ilmu meliputi apa hakikat ilmu itu, apa hakikat kebenaran dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan ilmiah, yang tidak terlepas dari persepsi filsafat tentang apa dan bagai­mana yang ada itu. Paham monisme yang terpecah menjadi idealisme atau spiritualisme, paham dua­lisme, pluralisme dengan berbagai nuansanya, merupakan paham ontologik yang pada akhimya menentukan pendapat bahkan ke­yakinan kita masing-masing mengenai apa dan bagaimana yang ada sebagaimana manifestasi kebenaran yang kita cari.
a)      Fisik, mencakup semuanya, manusia dan alam semesta.
b)      Metafisik, membahas ketuhanan

2.      Al Ma’rifat/ Epistimologi
      Epistemologi ilmu meliputi sumber, sarana, dan tatacara mengunakan sarana tersebut untuk mencapai pengetahuan (ilmiah). Perbedaan mengenal pilihan landasan ontologik akan dengan sendirinya mengakibatkan perbedaan dalam menentukan sarana yang akan kita pilih. Akal, akal budi pengalaman, atau komunikasi antara akal dan pengalaman, intuisi, merupakan sarana yang dimaksud dalam epistemologik, sehingga dikenal adanya model-model epistemologik seperti rasionalisme, empirisme, kritisisme atau rasionalisme kritis, positifisme, feno­menologi dengan berbagai variasinya. Ditunjukkan pula bagai­mana kelebihan dan kelemahan sesuatu model epistemologik be­serta tolok ukurnya bagi pengetahuan (ilmiah) itu seped teori ko­herensi, korespondesi, pragmatis, dan teori intersubjektif.
a)      Berkaitan dengan sarana apa pengetahuan itu diperoleh, yaitu dengan teori:
(1)    Menurut Realism, pengetahuan ini sesuai dengan kenyataan yang ada
(2)    Menurut Idelaisme, berpandangan bahwa pengetahuan sesuai dengan  kenyataanadalah mustahil
b)      Metode memperoleh pengetahuan:
(1)   Teori pertama Empirisme, pengetahuan yang diperoleh dengan panca indra, setelah diperoleh kemudian disusun menjadi pengentahuan
(2)   Teori kedua Rasionalisme, pengetahuan yang diperoleh perantara akal, meski panca indra yang mengumpulkan data akan tetapi akal yang menyusun menjadi ilmu.

3.      Al Qayyim/ Aksiologi
      Akslologi llmu meliputi nilai-nilal (values) yang bersifat normatif dalam pemberian makna terhadap kebenaran atau ke­nyataan sebagaimana kita jumpai dalam kehidupan kita yang menjelajahi berbagai kawasan, seperti kawasan sosial, kawasansimbolik atau pun fisik material. Lebih dari itu nilai-nilai juga ditunjukkan oleh aksiologi ini sebagai suatu conditio sine qua non yang wajib dipatuhi dalam kegiatan kita, baik dalam melakukan penelitian maupun di dalam menerapkan ilmu. Dalam perkembangannya filsafat ilmu juga mengarahkan pandangannya pada strategi pengembangan ilmu, yang menyangkut etik dan heuristik. Bahkan sampal pada dimensi ke­budayaan untuk menangkap tidak saja kegunaan atau keman­faatan ilmu, tetapi juga arti maknanya bagi kehidupan
a)      Aksiologi  bersangkutan dengan hakikat ilmu
b)      Hakikat atau ukuran baik dan buruk dibahas dengan filsafat atau akhlak
c)      Hakikat atau ukuran benar dan salah dibahas dalam logika atau mantiq
d)     Hakikat atau ukuran indara dan ukuran indar tidak dibahas dalam filsafat estetika/ jamal

III.             SEJARAH FILSAFAT ISLAM
            Alexander yang agung mengalahkan Darius di tahun 331 sebelum islam masuk ke Siberia. Alexander Agung datang dengan tidak menghancurkan peradaban dan kebudayaan Persia, bahkan sebaliknya, ia berusaha menyatukan kebudayaan Yunani dan Persia. Hal ini telah memunculkan pusat-pusat kebudayaan Yunani di wilayah Timur, seperti Alexandria di Mesir, Antiokia di Suriah, Jundisyapur di Mesopotamia, dan Bactra di Persia.

Pada masa Dinasti Umayyah, pengaruh kebudayaan Yunani terhadap Islam belum begitu nampak karena ketika itu perhatian penguasa Umayyah lebih banyak tertuju kepada kebudayaan Arab. Pengaruh kebudayaan Yunani baru nampak pada masa Dinasti Abbasiyah karena orang-orang Persia pada masa itu memiliki peranan penting dalam struktur pemerintahan pusat.

Para Khalifah Abbasiyah pada mulanya hanya tertarik pada ilmu kedokteran Yunani berikut dengan sistem pengobatannya. Tetapi kemudian mereka juga tertarik pada filsafat dan ilmu pengetahuan lainnya. Perhatian pada filsafat meningkat pada zaman Khalifah Al-Makun (198-218 H/813-833 M).

Penerjemahan Naskah,  Kelahiran ilmu filsafat Islam tidak terlepas dari adanya usaha penerjemahan naskah-naskah ilmu filsafat dan berbagai cabang ilmu pengetahuan ke dalam bahasa Arab yang telah dilakukan sejak masa klasik Islam.

Dalam Ensiklopedi Tematis Dunia Islam: Pemikiran dan Peradaban disebutkan bahwa usaha penerjemahan ini tidak hanya dilakukan terhadap naskah-naskah berbahasa Yunani saja, tetapi juga naskah-naskah dari bebagai bahasa, seperti bahasa Siryani, Persia, dan India.

Usaha penerjemahan tersebut berlangsung selama tidak kurang dari satu setengah abad di zaman klasik Islam (abad ke-1 hingga abad ke-7 H). Dan berlangsung secara besar-besaran di Baghdad sejak masa pemerintahan Al-Mansur (137-159 H/754-775 M), serta mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Al-Makmun.

Bahkan di masa Harun Ar-Rasyid, utusan khusus dikirim ke Kerajaan Romawi untuk mencari manuskrip yang kemudian dibawa ke Baghdad untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.

Usaha ini telah menghasilkan tersedianya buku-buku berbahasa Arab dalam jumlah banyak di perpustakaan-perpustakaan, baik yang dibangun para penguasa Muslim maupun yang dibangun para hartawan.

Ketersediaan buku-buku terjemahan tersebut dimanfaatkan oleh kalangan Muslim untuk berkenalan dengan ilmu pengetahuan dan filsafat, seperti yang telah dilakukan oleh orang-orang Yahudi, Kristen, dan Majusi pada masa-masa sebelum munculnya Islam.

Kegiatan penerjemahan dalam perkembangan berikutnya, telah memunculkan tiga kelompok ahli ilmu pengetahuan. Pertama, mereka yang memusatkan perhatian pada cabang-cabang ilmu pengetahuan saja. Kelompok pertama ini disebut para ilmuwan.

Kedua, mereka yang selain mengkaji dan mengembangkan berbagai cabang ilmu pengetahuan, juga memusatkan perhatian pada bidang filsafat. Kelompok kedua dinamakan para filsuf. Ketiga, yakni mereka yang berupaya menguasai berbagai cabang ilmu pengetahuan dan filsafat untuk keperluan berteologi. Kelompok yang terakhir ini disebut para teolog.

Ilmu filsafat dalam Islam pertama kali muncul dan berkembang di wilayah-wilayah Islam belahan timur, terutama di Baghdad. Baru tiga abad kemudian, ilmu filsafat ini berkembang luas di dunia Islam belahan barat yang berpusat di Cordoba (Spanyol).

Keterlambatan tersebut disebabkan oleh kenyataan bahwa buku-buku yang dihasilkan di dunia Islam belahan timur baru masuk secara besar-besaran ke dunia Islam belahan barat sejak paruh kedua abad ke-4 H, dengan dorongan dan bantuan dari pihak penguasa, terutama pada masa pemerintahan Khalifah Hakam II (350-366 H/937-953 M) di Andalusia.

Berkembangnya ilmu filsafat di dunia Islam ini pada akhirnya telah melahirkan sejumlah filsuf terkenal dari kalangan Muslim. Mereka antara lain Al-Kindi, Ar-Razi, Al-Farabi, Ibnu Maskawaih, Ibnu Sina, Ibnu Bajjah, Ibnu Tufail, dan Ibnu Rusyd.

Dengan memanfaatkan materi filsafat dari para filsuf Yunani, seperti Plato, Aristoteles, Pitagoras, Demokritos dan Plotinus, serta berpegang teguh pada ajaran Alquran dan hadits Nabi SAW, para filsuf Muslim membangun satu corak filsafat baru yang kini dikenal sebagai filsafat Islam. Dan karena dihasilkan dalam zaman klasik Islam, maka filsafat mereka sering disebut dengan filsafat klasik Islam.